Cerpen

Kalah

“Ayah, maaf….”

Ayah masih terdiam. Matanya masih menatap piala di tanganku. Menghujam tepat di tulisannya.

Sambil menghela nafas, ayahku berdiri. Tangannya mulai membuka sabuk celana. Aku gemetar.

“Sudah berapa kali kubilang! Jangan sampai KALAAAAH!!!” Sosok besar itu melangkah menuju tempatku berdiri. Sabuk kepala besi terjuntai di tangan kanannya.

“Tt… tap tapi, aku juara dua ayaahh ….” Aku mulai berlutut. Sekuat tenaga kutahan air mata yang mulai menggenang.

“Tidak ada juara dua dalam kamus keluarga kita!” Dengusnya di telingaku. Tangan kanannya terangkat.

Bertubi-tubi ayah menghujani badan kecilku dengan sabuk, mencabik-cabik baju dan kulitku. Tak peduli berapa kali aku berteriak kesakitan dan memohon ampun, ayah tidak juga berhenti.

Sejak saat itu, aku melakukan cara apapun untuk menang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s