Cerpen

Sang Pendosa

Tersengal-sengal aku berlari menuju tanah lapang itu. Sudah ramai orang-orang di sana, sepertinya seluruh penduduk kampung sudah berkumpul mematuhi perintah Sang Pemimpin.

Masih seperti kemarin-kemarin, matahari bersinar sangat terik. Saking teriknya kupicingkan dua mata ini, sulit untuk kubuka lebar-lebar. Hawa panas masih mencekik leher, peluh mulai membasahi baju. Tanah yang kupijak, seperti meronta dengan retakannya. Ya, sudah sekian lama daerah kami dilanda kemarau, lamaaa sekali sampai aku lupa kapan terakhir hujan turun.

Sawah dan kebun kami kering kerontang, hasil tanam rontok berguguran karena hujan tak kunjung datang. Hewan ternak kami mulai mati susul menyusul. Akhirnya kelaparan dan penyakit berdatangan.

Banyak sumur yang dulu isinya melimpah ruah, sekarang terbengkalai habis sampai dasar. Sumur-sumur baru yang digali dengan penuh harap, nyatanya tak menghasilkan apa-apa. Air dan bahan makanan jadi barang yang paling mahal, tak jarang kami berebut untuk mendapatkannya. Tak perduli tetangga apatah lagi saudara, semua saling sikut.

Melihat keadaan yang sudah sedemikian gentingnya, maka Sang Pemimpin meminta semuanya segera berkumpul untuk berdoa meminta turunnya hujan.

Saat ini tampak Sang Pemimpin bersiap memimpin do’a. Kutengadahkan tangan ke atas, mengikutinya. Demikian pula seluruh penduduk. Semua berharap Allah mengabulkan do’a Sang Pemimpin dan do’a kami. Kupejamkan mata, agar bisa fokus berdo’a di tengah cuaca panas ini.

“Ya Allah ya Tuhan kami, turunkanlah hujan kepada kami. Tebarkanlah Rahmat-Mu kepada kami, kasihilah kami demi anak-anak yang masih menyusu, demi hewan ternak yang merumput, dan demi para orang-orang tua yang ruku’ kepada-Mu …”

Sedetik, dua detik. Semua orang menahan nafas menunggu tanda-tanda hujan. Kubuka mataku, ternyata langit masih sama, matahari masih di tempatnya, tiada awan secuilpun yang menemani.

Sang Pemimpin, kembali mengulang do’anya. Tapi tetap sama, cuaca tidak berubah.

Orang-orang mulai tengok kanan kiri, mengapa bisa begini. Kecemasan mulai melanda, kalau Sang Pemimpin saja do’anya tak dikabulkan, lalu apa jadinya kami….

Sang Pemimpin, tiba-tiba terdiam mematung. Seperti mendengarkan sesuatu.

Tiba-tiba, beliau berkata dengan nada geram. “Kalian tahu kenapa Allah belum mengabulkan do’a kita? Karena ada orang di antara kita yang bermaksiat kepada Allah… selama 40 tahuuuun!”

Deg!
Kakiku gemetar…

“Keluarlah hai kau, sang pendosa yang bermaksiat sekian lama! Keluar dari tempat ini, Allah tidak akan mengabulkan do’a kalau kau masih di sini bersama kami!”

Degggghhh!!!
Jantungku terasa jatuh melorot ke perut.
Badanku kaku seketika…

Yang bermaksiat itu,… AKU!
Sang pendosa itu,… AKU!
Iya, AKUUU!!!
Teriakku dalam hati.

Selama 40 tahun terakhir, hidupku memang bergelimang dosa. Tak ada seorangpun yang tahu, termasuk keluargaku sendiri. Aku pandai menyimpannya rapat-rapat. Kubungkus dengan pencitraan diri, yang harum wangi semerbak.

Awalnya, aku lalai. Iya, cuma lalai. Lalu dengan bodohnya, aku mengampuni diriku sendiri, berlagak seperti Tuhan. ‘Ah, gak apa-apa kok, cuma sebentar, cuma sedikit kan tidak merugikan orang lain’. Tapi lama-lama kebiasaan itu menjerumuskanku ke maksiat itu, aku seolah kesenangan berkubang di dalamnya, menikmatinya dan terlena 40 tahun lamanya. Aku lupa, bahwa Allah Maha Tahu dan Allah Maha Melihat, suatu saat Dia akan meminta pertanggung jawabanku.

Rekaman maksiat demi maksiat itu berputar jelas di benakku. Baru kusadar, diri ini sangaaat kotor. Apa yang membuatku mampu berjalan-jalan dan tersenyum ke semua orang selama ini? Seakan-akan aku ini orang yang paling baik sedunia, padahal kebusukanku amatlah banyak.

Mataku mulai berkabut, penyesalan datang menghantamku bertubi-tubi. Ya Rabb, ampuni hambaaa…

Bisakah aku berubah? Bisakah aku memulai hidup tanpa maksiat? Aku harus bertaubat, sekarang juga! Demikian tekadku.

Orang-orang mulai resah gelisah, celetukanpun berdatangan. Beberapa mulai saling tuduh bahkan saling dorong. Mereka pastinya marah pada sang pendosa itu, mereka marah… kepadaku!

Mukaku pucat pasi, seluruh tubuhku gemetar. Apa yang harus aku lakukan? Kalau aku keluar, orang-orang akan menghinaku. Tapi kalau aku bertahan, hujan tak akan turun.

Setelah menelan ludah dengan susah payah, bibirku berbisik pelan melantunkan sebait harapan.

“Ya Allaah… Yaa Rabbanaa…, ampuni hambaaaa. Sungguh aku sangat menyesal.
Terimakasih Kau telah menutupi aibku selama ini. Tapi aku sungguh amat sangat maluuu, jika aku harus keluar dari sini, aku malu karena dosaku yang sangaaat banyak.
Kumohon, terimalah taubatku ya Rabb, tutupi aibku dan turunkan hujan kepada kami”

Tepat setelah do’a itu kulantunkan, langit berubah dengan cepat. Matahari tiba-tiba menghilang di balik awan gelap yang datang berbondong-bondong, entah darimana. Petir dan kilat mulai menyambar, tak lama airpun tertumpahkan dari langit.

Semua orang bersorak gembira, baju kami yang tadi basah oleh keringat sekarang kuyup dengan hujan. Sebagian menampung air dengan tangan, sebagian lagi langsung membuka mulut menghadap langit.

Sementara aku…, badanku melorot lemas ke bawah. Bahuku terguncang karena ledakan tangis. Air mataku mengalir deras, yang syukurnya terkamuflase dengan hujan. Bertumpu dengan lutut, kuraba tanah yang kini basah. Perlahan kutempelkan dahi dan hidungku.

Sayup-sayup terdengar Nabi Musa, Sang Pemimpin kami berkata, “Allah sudah mengabulkan taubat pendosa itu. Dia menutupi aib pendosa itu, selama 40 tahun. Dan karena taubatnya hari ini, maka Allah menutupi kembali aib orang itu, dan menurunkan hujan untuk kita.”

Terimakasih ya Rabb, Kau telah menerima taubatku. Kuberbisik dalam sujud syukurku.

===========

Mencoba menulis ulang kisah masyhur ini melalui sudut pandang sang pendosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s